SOSPOL


Industri Hiburan

Sebagai Candu Dalam Kehidupan Masyarakat

Sekarang ini, ditengah-tengah kesibukan aktivitas sehari-hari, bisa dipastikan orang selalu meyempatkan diri untuk melakukan kegiatan yang sifatnya hiburan, seperti : membaca, baik itu  novel, cerpen, majalah, koran, tabloid, atau bahkan membaca melalui situs-situs online. Setiap hari  juga, hampir bisa dipastikan sebagaian besar orang menyempatkan diri untuk menonton acara-acara kesayang kita di televisi. Kebanyakan dari mereka, hampir tidak bisa dipisahkan dari musik kesayangannya. Sebagain orang akan selalu menyempatkan diri mendengarkan lagu-lagu kesayangannya entah itu lewat handphone atau lewat MP 3 Player.  Bahkan, ada orang yang kemana-mana selalu bawa hadset agar dia bisa mendengakan lagu-lagu kesayangannya dimanapun ia berada. Semua kegiatan yang orang-orang lakukan: membaca, menonton, dan mendengarkan musik, merupakan cara yang dilakukan untuk mendapatkan hiburan.

            Semua orang menyadari kalau apa yang  mereka lakukan tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan merka akan informasi dan hiburan. Sebagian besar cara yang mereka lakukan untuk medapatakan hiburan adalah melalui televisi. Telavisi menyajikan berbagai macam hiburan, 24 jam dalam satu hari, 7 hari dalam satu minggu.

Sebagian besar orang menganggap hiburan sebagai sesuatu kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Sehingga, karena sebagian besar4 hiburan disajikan oleh televisi, maka orang menganggap kalau menonton televisi merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting. Hal ini membuat banyak orang yang persepsinya dipengaruhi oeh televisi. Karena begitu kuatnya pengaruh televisi, televisi bisa mempengaruhi persepsi orang mengenai kehidupan. Dengan banyaknya acara hiburan di televisi atau hampir semua acara di televisi di sajikan dengan cara yang menghibur, membuat orang mempersepsikan kalau hidup itu mamang sudah seharusnya menghibur dan menyenangkan.

Sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali dari mereka yang menyadari kalau mereka sedang berada dalam sebuah Industri yang sangat besar, menjadi bagian dari industri tersebut tanpa mereka sadari. Industri yang dimaksud masksud disini bukanlah Industri Musik, Indutri Film, atau Industri Percetakan. Industri yang dimaksud disini adalah Cultural Industry dan khususnya lagi adalah Entertainment Industry.

Cultural Industry mungkin  bagi yang mempunyai latar belakang ilmu sosial sudah pernah mendengar istilah ini. Namun, bagi yang tidak mempunyai latar belakang ilmu sosial masih kurang akrab dengan istilah tersebut. Mungkin banyak yang masih beratanya-tanya,  Apa sebenarnya yang dimaksud dengan cultular Industry ? Indutry apa itu? Produk seperti apa yang diproduksi Industri tersebut?

Cultural Industry merupakan sebuah industry yang sekarang sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kalau dilihat daridefinisinya cultural Indusry adalah refers to businesses involved in the production, sale, distribution and creation of works of creativity”. Jadi kalau kita lihat dari definisi tersebut cultural industry itu hampir sama dengan sebuah bisnis yang melibatkan proses produksi, penjualan, distribusi, dan menciptakan pekerjaan dari kreatifitas.

            Salah satu bagian dari Cultural Industry atau Industri Budaya yang sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat adalah Entertainment Industry atau Industri Hiburan. Industri Hiburan merupakan bagian dari Industri Budaya yang sudah berkembang dengan pesat dan terus mengalami perkembagan sampai dengan detik ini.  Industri Hiburan merupakan “karya kreatif yang dipersepsikan sebagai memiliki fungsi utama untuk menghibur atau dimanfaatkan konsumen sebagai hiburan”. Jadi kalau kita lihat dari definisinya ada dua point penting : yang pertama Industri Hiburan adalah sebagai sebuah karya yang kreatif dan yang kedua adalah Industri hiburan dipersepsikan sebagai sesuatu yang memiliki fungsi utama untuk menghibur. Jadi kalau menurut defini tersebut karya yang tidak kreatif dan tidak mempunyai fungsi utama untuk meghibur tidak termasuk dalam Industri Hiburan.

Untuk membahas mengenai, Apa saja karya kretif atau produk yang termasuk dalam Industry Hiburan ? saya akan menjelaskan sejarah perkembagan dari Industri Hiburan Ini sendiri, mulai dari kemuncuannya hingga sekarang ini.

Printing Press Gutenberg

Munculnya budaya dan hiburan sebagai indutsri sebenarnya di awali dengan penemuan printing press oleh Johannes Gutenberg.  Penemuan printeng press oleh Gutenberg ini menjadi  tongak dari kemajuan teknologi dalam kehidupan manusia. Penemuan priting press tersebut membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia pada waktu itu. Dengan menggunakan prenting press orang bisa melakukan pekerjaan menjadi lebih mudah. Misalnya, orang bisa mencetak gambar, sebagai penganti gambar yang dibuat dengan cara dilukis.

Jadi dapat disimpulkan kalau produk dari Industri Hiburan pertama kali adalah printing press yang ditemukan oleh Johannes Gutenberg. Pada saat itu, printing press menjadi komoditas massal dan diproduksi, kemudian di distribusikan secara  masal untuk di jual di kalangan masyarakat. Kemudian produk kedua dari Industri Hiburan adalah gambar hasil cetakan dari hasil penemuan priting press orang kemudian bisa mencetak gambar. Gambar hasil cetakan ini sama dengan gambar hasil lukisan, sama-sama memiliki nilai estetika dan nilai ekonomi. Sehingga, orang pun memproduksi gambar hasil cetakan, kemudian di distribusikan, dan di jual kepada masyarakat luas.

Buku

            Kemudian perkembangan produk karya kreatif yang termasuk daalam Indutri Hiburan adalah buku. Buku tadinya hanya terbatas untuk kaum elit dan hanya membahas mengenai hal-hal yang subtansial dan serius. Dimana buku yang pertama kali di cetak adalah Injil(1453). Pada abad 17-19 berkembang tidak hanya buku-buku mengenai agama, tetapi sudah mencakup buku-buku mengenai pengetahuan, politik, filsafat, dan sastra. Namun setelah di temukannya printing press oleh Gutenberg buku kemudian bisa diproduksi secara massal. Dan akhirnya buku tidak lagi hanya terbatas untuk kalangan elit saja tetapi juga untuk kalangan masyarakat luas.

Kemudian, pada tahuan 1830 dari segi isinya buku juga banyak mengalami perkembangan. Buku tidak lagi hanya membahas hal-hal yang subtansial dan serius, tetapi juga sudah membahas hal-hal yang ringan dan mudah untuk di cerna, yang sifatnya adalah untuk menghibur. Pada saat itu sudah muncul buku-buku seperti : paparback novel, chapbooks. Kemudian terus berkembang, hingga akhirnya pada abad 20 sudah ada komik sebagai buku yang sifatnya menghibur.

Namun tidak hanya sampai disitu, buku terus mengalami perkembangan hingga saat ini dan akan terus mengalami perkembangan kedepannya. Sekarang, sudah muncul buku mengenai mengenai sesuatu yang sedang populer dalam kehidupan masyarakat, bisa buku mengenai artis, serorang tokoh, atau mengenai hal-hal kejadian yang unik, lucu, dan membahas yang remeh-temeh yang sifatnya untuk memberikan hiburan. Buku-buku yang ada sekarang semakin menonjolkan sisi hiburannya. Bahkan buku-buku akademis, buku-buku mengenai agama sudah ditulis dengan cara yang menghibur dan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

Koran dan Majalah

Koran mulai muncul sebagai produk Industri Hiburan sekitar abad 18. Pada awalnya korang yang terbit hanyalah korang mengenai politik. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pada abad 19 koran sudah memuat hal-hal yang berhubungan dengan seks, skandal, feature, dan human-interest. Pada pertengahan abad 19 juga sudah muncul majalah perempuan yang memuat isi mengenai gaya hidup dan kisah kehidupan. Pada abad 20, sudah muncul yellow jurnalism dan tabloids. Sekarang kita sudah bisa melihat banyak sekali buku-buku yang dibuat untuk tujuan menghibur: novel, komik, majalah, tabloid, koran.  Dari setiap jenisnya sekarang sudah banyak sekali variasi, spesifikasi, dan klasifikasi. Bahkan sekarang sudah ada koran lampu hijau, majalah playboy, dan masih banyak lagi. Buku-buku tersebut ada yang terbit setiap satu minggu sekali, satu bulan sekali, tiga bulan sekali, bahkan ada yang terbit setiap hari seperti koran.

Sekarang bisa dilihat bagaimana perkembagan korang dan majalah sekarang. Kebanyakan isi dari koran maupun majalah sekarang lebih banyak mengangkat hal-hal seputar, gaya hidup, kesih kehidupan artis, kriminalitas, seks, hal-hal yang mistik, yang sifatnya remeh-temeh dan sensasional.

Radio

            Kemudian, radio, sejak awal kemnculannya  radio sudah meruakan  produk dari Indutri Hiburan. Dari awal kemunculan radio memang sudah bersifat komersial, walaupun ada radio public seperti yang ada di eropa. Arena memang sudah sejak awal bersifat komersial, maka hal ini berimplikasi pada isi dari radio tersebut, yaitu mengenai hiburan. Radio harus menyajikan hiburan agar bisa menarik orang untuk mendengakannya. Karena kalau banyak orang yang mendengarkannya maka, radio tersebut akan mendapattkan pengiklan, yang akan menghasilkan keuntungan.

Musik

Musik dimulai ketika ditemukannya phonograph di ahkir abad 19. Sejak awal kemunculannya musik memang sudah ditujukan untuk komersial. Musik kemudian  menjadi media yang menumbuhkan beragam genre musik: pop, jazz, rock and roll. Karena bersifat komersial, berarti harus mengasilkan keuntungan. Maka dalam logika industri harus ada poduksi secara terus-menerus, dan supaya biaya produksinya rendah harus ada selera yang sama di dalam msayarakat. Oleh sebab itu, secara tidak lamnngsung Industri harus mencipatakan suatu standar menegai musik. Sekarang kita lihat bagaimana indutri musik di Indonesia, musik-musik yang muncul seragam, dan hampir dengan format yang sama. Hal ini buknlah suatu kebetulan yang tidak disengaja, ini adalah cara industri untuk mencipaptakan keseragaman, ddan akhirnya menciptakan kepatuhan bagi para produsen musik.

Film

Film mulai muncul sebagai produk Industri Hiburan setelah ditemukannya Kinetoscope di akhir abad 19, pada awalnya hanya bisa digunakan untuk menonton film secara individual. Kemudian pada abad 20 fil sudah ditayangkan di teahter atau biaskop, biasanya film yang di sajikan adalah film cerita. Kemudian film terus mengalami perkembangan dan menjadi Indusri Hiburan, terutama sejak munculnya fim Hollywood, dimana film Hollywood ini merupakan film-film pop.

Sampai dengan sekarang film terus berkembang menjadi  Industri Hiburan. Kita bisa melihat fil-film yang muncul sekarang, hampir semua film yang ada sekarang menyajikan hal-hal yang tidak jauh dari kekerasan, seks, hal-hal yang lucu, mistik. Kalaupun ada film-film yang masih memiliki kulaitas yang bagus,dalam artian lebih mementingkan kualitas dan isi film,  itu hanya sedikit sekali. Kita lihat bagaimana perfilman Indonesia sekarang, hampir sebagian besar film yang muncul adalah film sek horor. Bisa dilihat kalau yang dikedepankan dalam film-film tersebut bukanlah isi yangg berkualitas, tetapi bagaiman supaya orang bisa tertarik. Dan akhirya film itu bisa laku terjual, sehingga bisa mendatangkan kenutungan bagi produsem film.

Televisi

Televisi pertama kali berkembang di Ameerika serikat setelah prang dunia ke dua. Sama seperti radio, sejak awal kemunculannya telvisi sudah bersfat komersial, walaupun di eropa televisi awalnya lahir sebagai lembaga penyiaran public. Karena bersifat komersial  tentu saja televisi harus mampu menarik perhatian orang banyak. Hal ini berimplikasi pada isi dari program yang di tayangkan oleh televisi. Akibatnya isi tayangan televisi harus merupakan hal-hal yang bisa menghibur bagi orang.

Kita bisa melihat sekarang, acara-cara televisi yang ada di Indonesia. Sebagian besar acara yang ada adalah acara-acara entertainment, mulai dari, infotaiment, gosip, senitron , kuliner. Bahkan, program-program berita yang seharusnya ditayangkan dengan serius, sekrangpun sudah dikemas dengan cara yeng menghibur. Di mana hal ini dilakukan dengan mengurangi subtansi dari berita itu sendiri, misalnya dengan lebih menekankan paga gambar atau vedio.

Kemudian bisa dilihat bagaimana sekarang televisi menampilakan berita-berita, lebih pada nilai hiburanya, misalnya berita mengenai anggota DPR yang sedang megadakan rapat, yang diangkat adalah anggota DPR yang ngantuk dan tertidur, kemudian keributan anggota DPR ketika sedang rapat, bukan mengenai subtansi mengenai apa yang di bahas oleh DPR. Padahal subtansi mengenai apa yang sedag di bahas itulah yang seharusnya harus disampaikan televisi kepada masyarakat, karena itu yang memiliki nilai informasi. Tetapi kareana logika yang digunakan adalah logika industri, maka yang lebih ditonjolkan oelh televisi adalah hal-hal yang menghibur, hal-hal yang sensasional.

Itulah produk-produk dari Industri hiburan mulai dari awal kemunculannya, bagaimana perkembangannya mengikuti logika industri sampai dengan hari ini. Semua orang sekarang ini, sudah barang tentu pasti membutuhkan itu semua, baik itu buku, majalah, koran, radio, muasik, televisi.

Apa yang menjadi masalah dengan adanya industry hiburan ini, kuhusnya televisi yang merupakan industry hiburang yang paling pesat perkembangannya. Seperti yang sudah saya jelaskan di awal tulisan ini, sekrang banyak orang yang merasa tidak bisa dipisahkan dari hiburan dalam kehidupan mereka. Dengan banyaknya hiburan yang disajikan dalam logika industry, membuat orang menganggap kalau hiburan itu merupakan kebutuhan yang sangat penting dan mereka akan menganggap kalau memang seharusnya begitu. Orang akan menganggap kalau hidup itu harus menghibur dan menyengkan, bukan memikirkan hal-hal yang berat atau subatansial.

Akan tetapi bukan hal itu yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini. Yang ingin saya garis bawahai disini adalah ketika budaya, terutama hiburan sebagai bagian dari budaya di kelola dalam logika industry. Maka budaya dan hiburan akan di produksi secara masal dan dengan cara yang menarik, sensasional, dan akan dipasarkan dengan berbagai macam cara agar disukai oleh masyarakat. Hiburan akan dipasarkan layaknya sebuah produk yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Sehingga, orang akan terpengaruh dan menganggap kalau mereka memang membutuhkan hiburan tersebut.Ini seperti menyajikan kesadaran palsu bagi orang-orang.

Lebih lanjut lagi karena apa yang di tayangkan di televisi dan berbagai media lainnya sekarang semuanya disajikan dengan cara yang menghibur. Orang akan menganggap kalau seharusnyya hidup ini harus menghibur dan mereka harus selalu senang, hidup tidak boleh mengalami kesulitan. Akibatnya, orang akan lebih menyukai hal-hal yang bersifat hiburan, remeh temeh. Orang lambat laun tidak lagi menyukai hal-hal yang subtansial. Hiburan akan sekarang dan kedepannya kan menjadi candu dalam kehidupan masyrakat.

Akibatnya ketika mereka mengalami hal-hal yang berat dan tidak menyengkan di dalam kehidupan yang sebenarnya, mereka akan kembali untuk melihat produk-produk Industri Hiburan. Misalnya, ketika orang habis terkena msalah di tempat ia bekerja, maka ia kan merasa stress dan ia merasa membutuhkan hiburan, agar ia bisa melupakan permaslahan yang dihadapi dalam kehidupan nyatanya. Orang tersebut membutuhkan hiburan agar ia bisa merasa senag dan melupakan permsalahnnya. Dengan demikian kalau dilahat Industri Hiburan ini seperti candu.

Ketika orang menerima apa yang disampaikan produk-produk industri hiburan (melalui buku, radio, film, televisi, majalah, koran, dll) secara gambalang, maka akan terbantuk realitas dunia kedua mengenai kehidupan, bahwa kehidupan itu harus menyengkan, harus merasa terhibur, tidak harus melakukan hal-hal yang sulit. Dan ketika realitas sebananya tidak sama dengan realitas dunia dunia kedua yang terbentuk, maka orang akan merasa ia membutuhkan hiburan, agar ia bisa merasa senang dan melupakan permaslahan yang dihadapi.

Dengan kata lain hiburan akan menjadi cara orang untuk lari dari masalah(candu), lari dari kenyataan kalau hidup itu butuh perjuangan, kalau dalam kehidupan itu tidak selalu menyengkan,  dan kalau di dalam kehidupan itu tidak semuanya menghibur dan remeh-temeh, tetapi juga ada hal-hal yang substansial. Ketika merka megalami hal-hal yang berat, membosankan, membutuhkan perjuangan, orang akan kembali mencari hiburan, untuk melupakan masalah yang mereka hadapi. Melalui hiburan mereka seolah memiliki kehidupan yang menyengkan, bebas dari permasalahan, bebas dari hal-hal yang substansial.

Sebagai contoh, ketika orang baru saja mendapat masalah di kantor, maka ketika pulang dari kantor, ia akan cenderung mencari hiburan, entah itu menonton televise atau melalui media-media lain yang menyajikan hiburan. Contoh lain, ketika mahasiswa dihadapkan dengan tugas ujian akhir yang banyak, mereka akan mengeluh, kenapa belajar itu harus susah, kemudian mereka akan mencarai hiburan untuk lari dari kenyataan yang mereka hadapi. Ini akan berlangsung secara terus-menerus, ketika orang mendapatkan masalah atau hal-hal yang sulit mereka akan lari pada hibutran. Dengan demikian hiburan merupakan candu dalam kehidupan masyarakat, hiburan menjadi cara orang untuk lari dari kenytaan hidup.

Layaknya narkoba, semakin sering  orang memakai narkoba maka ia akan semakin kecanduan, dan akan semakin ketergantungan dengan narkoba. Hal ini sama dengan hiburan, semakin sering orang diterpa acara-acara hiburan, hal-hal yang remeh- temah, maka pengaruh acara-acara tersebut terhadap persepsi mereka kalau kehidupan itu harus menghibur, menyengkan, dan tidak perlu mimikirkan hal-hal substansial akan semakin kuat. Kalau sudah seperti itu, ketergantungan mereka akan hiburan akan semakin tinggi, kerena pada dasarnya hidup itu tidak selalu menghibur dan menyengkan. Ketika hiburan ini menjadi candu bagi masyrakat, maka hal ini akan semakin melanggengkan  industry hiburan.

Kesimpulannya, ketika  televisi, media cetak, online, dikelola dengan logika industry, maka apa yang disajikan di dalam media-media tersebut harus bisa membuat orang tertarik untuk manyaksikannya. Untuk itu semuanya di sajikan dengan cara hiburan, atau apa yang disajikan di televise dan media-media lainnya hayalah hal-hal yang remeh-temeh, yang sifatnya untuk hiburan. Dan karena di kelola dengan logika industry, produk hiburan tersebut dipasrkan dan didistribusikan kepada masyarakat dengan berbagai cara. Sehingga masyarakat menerima hal tersebut sebagai suatu yang wajar, dan memang sudah seharusnya begitu. Katika masyarakat sudah menerima tersebut sebagai suatu yang wajar dan  sudah  seharusnya, maka hal tersebut akan memepengaruhi persepsi orang mangenai kehidupan.

Orang akan mempersepsikan kalau kehiduapan itu harus menyenangkan, menghibur, dan tidak perlu malakukan hal-hal yang substansial. Padahal dalam kehidupan nyata, kehidupan itu penuh dengan kesulitan,maslah-maslah, tantangan dan perjuangan. Ketika apa yang meraka alami di kehidupan nyata tidak seperti apa yang mereka persepsikan, mereka akan mencari dan terus mencari hiburan untuk sebagai cara mereka untuk mendapatkan kehidupan seperti apa yang mereka persepsikan. Dengan demikian hiburan akan menjadi candu dalam kehidupan masyarakat. Ketika hiburan menjadi candu dalam kehiudpan masyarakat, maka orang akan menganggap kalau hiburan itu sebagai kebutuhan yang sangat penting, dan mereka akan tergantung pada konten-konten hiburan, baik yang ada di televise, media cetak, maupun media online.

Bukan suatu hal yang salah jika kita membutuhkan melihat dan menyukai acara-acara hiburan. Tetapi akan menjadi permasalahan jikalau  semua orang menjadi hanya bergantung dan berfokus  pada acara-acara hiburan dan menerima itu semua yang disampaikan secara begitu saja, tanpa menganalisis yang mana yang benar dan yang mana yang salah.  Supaya orang tidak menerima begitu saja apa yang dia baca, apa yang dia lihat, orang tersebut harus mempunyai pengetahuan mengenai pengaruh industry hiburan dan kesadaran mengenai apa yang dia baca dan dia lihat. Ketika orang tidak memiliki pengetetahuan dan tidak bisa berpikir dengan sadar maka, orang kan menrima begitu saja apa yang mereka lihat melalui produk-produk industri hiburan tersebut. Akibatnya,  apa yang orang persepsikan mengenai kehidupan dipengaruhi oleh apa yang mereka dapatkan melalui, televisi, majalah, film,musik, radio, koran, yang kebanyakan menyajikan hiburan. Sehingga akan terbentuk relaitas dunia ke dua, dimana kehidupan itu harus menyenagkan, harus menghibur, harus santai. Dan kalau sudah sperti itu industry hiburan akan hadir sebagai candu dalam kehidupan masyarakat.

Daftar Pustaka

 

Postman, Neil. Menghibur Diri Sampai Mati. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1985

Armando Ade. Materi Kuliah Industri Informasi dan Hiburan. Ilmu Komunikasi FISIP UI. 2010/2011.

Malik Abdul. (26 Desember 2008). Pengaruh Industri Media Terhadap Industri Hiburan. Dipetik 30 Mei 2011, dari malikinworld.blogspot.com :

http://malikinworld.blogspot.com/2008/12/pengaruh-industri-media-terhadap_25.html

Rahman Abdul.( 2006 ). Pengaruh Acara Budaya Siaran Televisi Di Masyarakat. Dipetik dari Jurnal Dakwah”Risalah” :

http://idb2.wikispaces.com/file/view/ok2006.pdf

Iklan

One response to this post.

  1. Posted by seseorang on Juni 1, 2011 at 7:45 pm

    lanjutkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: